Wisata Menara Masjid Agung Madaniyah Disetop

Karanganyar, Gatra.com – Wisata menara pandang Masjid Agung Madaniyah Karanganyar, Jateng, ditutup hingga waktu yang belum ditentukan. Penyebabnya, vendor untuk maintenance mesin lift belum juga memperbaiki bagian penting itu.

Kepala Bagian Kesra Setda Pemkab Karanganyar, Ali Qodri, menceritakan awal kerusakan mesin dialami lift jemaah masjid. Lantaran berbagai pertimbangan, akhirnya daripada diperbaiki atau diganti, mesin lift jemaah ditukar dengan mesin lift menara pandang.

Mesin menara pandang yang masih bisa dioperasikan kini terpasang di lift jemaah untuk naik turun dari lantai dasar area wudhu dan toilet ke tempat salat berjamaah. Sedangkan mesin yang rusak disimpan dulu.

Lift menara pandang Masjid Agung pun akhirnya tak berfungsi. Penjualan tiket wisata menara juga dihentikan atau off.

“Teknisinya dari Mitsubishi. Enggak bisa teknisi lain memperbaiki mesin lift. Kami sudah lama menanti tapi belum jug tiba teknisinya,” kata Ali pada akhir pekan kemarin.

Menara pandang Masjid Agung merupakan wahana anyar yang dibuka usai bangunan tempat ibadah senilai Rp80-an miliar itu rampung dikerjakan. Di menara setinggi 40 meter itu, pengunjung dapat menyaksikan pesona kota dari atas. Lift yang mengangkut pengunjung, maksimal mampu membawa 700 kilogram beban atau maksimal 11 orang.

Ali mengatakan, lift yang ditukar sebenarnya bisa dipasang di menara pandang. Namun tanpa perbaikan dari teknisi Mitsubishi, pengelola tak berani mengoperasikannya.

Kemudian untuk lift jemaah, takmir Masjid Agung tak mau mesinnya cepat rusak. Sehingga hanya menyalakan lift sejam sebelum dan sesusah salat wajib lima waktu. “Enggak sepanjang hari dinyalakan,” katanya.

Ali mengatakan, cara itu juga upaya penghematan beban operasional masjid kebanggaan Karanganyar ini. Terlebih, pengelolaan masjid pada tahun ini tak mendapat bantuan hibah dari Pemkab Karanganyar.

“Tahun lalu dapat dana hibah dari Pemkab Rp300 juta. Dalam aturan hibah tidak diperbolehkan mengalokasi ke sasaran sama selama tahun berturut-turut. Jadi kemungkinan dapat dana pemkab lagi tahun depan,” katanya.

Ia menyebut biaya operasional masjid cukup tinggi. Bayar rekening air dan listrik sebulan mencapai sekitat Rp28 juta.

“Itupun sudah statusnya sosial, kategori tempat ibadah,” katanya.

Untuk mencukupinya, pembayaran tagihan mengandalkan dermawan dan pengumpulan uang kotak infak.
https://ouo.io/Lk3VEBS

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started